Potret Pendidikan di Tingkat Dasar dan Menengah
/
0 Comments
Siang itu semua peserta sudah berkumpul, dan semua pejabat KePotret Pendidikan sudah hadir, termasuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Potret Pendidikan) Anies Baswedan. Namun acara tidak kunjung dimulai secara resmi. Justru anak-anak calon pemimpin itu diperbolehkan naik ke panggung untuk bebas berekspresi menyanyikan lagu daerah bersama peserta yang lain. Beberapa lagu daerah pun dinyanyikan bersama-sama.
Dimulai dengan lagu dari Sumatera Barat, Kampuang Nan Jauah di Mato; lalu lagu daerah dari Papua, Sajojo; dan diakhiri dengan lagu dari Jawa Barat, Manuk Dadali. Kemeriahan dan suasana suka cita memenuhi Plasa Insan Berprestasi KePotret Pendidikan. Bahkan Potret Pendidikan Anies Baswedan dengan suka cita menari bersama para pelajar, bergandengan tangan dan saling merangkul saat lagu Sajojo disenandungkan.
Usai kemeriahan bernyanyi dan menari bersama, acara resmi pun dimulai. Semua peserta duduk dan bersama-sama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Potret Pendidikan pun lalu memulai sambutannya. Ia mengawali dengan mengingat kembali kenangan saat dirinya menjadi pengurus OSIS di kelas 1 SMA dan mendapat kesempatan mengikuti kegiatan kepemimpinan di Kantor KePotret Pendidikan, tepat di tempat yang sama, yaitu di Plasa Insan Berprestasi.
“Waktu itu menterinya Pak Fuad Hasan. Kejadiannya pas September tahun 1985. Dan itu meninggalkan pengalaman yang luar biasa dalam diri saya,” tutur Potret Pendidikan di hadapan sekitar 1.100 lebih peserta Kawah Kepemimpinan Pelajar (KKP), pada Rabu siang (18/11/2015). Ia lalu menyampaikan pesan-pesannya mengenai cara mengembangkan potensi kepemimpinan, salah satu caranya dengan menciptakan masalah.
“Pemimpin itu harus senang menciptakan masalah. Masalah adalah selisih antara yang menjadi kenyataan dengan harapan,” katanya.
Potret Pendidikan mencontohkan masalah yang dibuat para pelajar dari SMAN 1 Serang yang membuat koran bulanan di sekolah. “Mereka menciptakan masalah,” ujarnya sambil menunjukkan sebuah koran karya pelajar SMAN 1 Serang, Banten. Ia mengatakan, para pelajar SMAN 1 Serang itu menciptakan masalah karena setiap selesai belajar di sekolah mereka tidak langsung pulang ke rumah, melainkan berkumpul untuk membicarakan rencana penerbitan koran bulanannya.
“Mereka harus mengumpulkan orang, mengumpulkan tulisan, hingga mendistribusikan koran,” katanya.
Potret Pendidikan juga menuturkan, proses menjadi seorang pemimpin tidak instan. Seorang pemimpin yang besar dan matang dihasilkan melalui proses penempaan. Dalam proses penempaan itu, ia harus menghadapi berbagai masalah. Karena itulah, Potret Pendidikan meminta para peserta KKP 2015 untuk terus mengembangkan potensi kepemimpinan mereka dengan menciptakan masalah. (Desliana Maulipaksi)
Indeks Berita
